Gaya Komik Indonesia dalam Bayangan Manga Jepang

Hels
(Komik buatan orang Indonesia, sumber: Ngobrolin Komik oleh Seno Gumira Ajidarma)

      Pada dunia sastra dan juga seni beberapa dari kita tentunya pernah mendengar ataupun familiar dengan istilah manga. Manga hadir sebagai istilah lain dari komik dalam dunia perkomikan Jepang. Komik atau manga menurut Toni Johnson Woods dalam Manga an Anthology of Global and Cultural Perspectives, mengungkapkan bahwa manga adalah sebuah visual naratif dengan sebuah sensibilitas yang dapat dikenali. Istilah sensibilitas sengaja disamarkan agar mencakup banyak pilihan dan mencakup karakter-karakter yang lekat dengan stereotip bermata besar dan berdagu runcing yang oleh banyak orang dianggap sebagai lambang manga, namun tidak semua manga memiliki gaya yang sama dengan manga lainnya. Selain itu, komik menurut Scott McCloud dalam Understanding Comics yang menarik opini dari Will Einser dalam Sequential Art (seni berurutan) mengungkapkan bahwa dalam satu gambar dapat diubah menjadi suatu urutan gambar lain yang lebih banyak jumlahnya. read more

Gaya Komik Indonesia dalam Bayangan Manga Jepang Read More »

Zurbaran dan Anak Domba Allah (1640)

radeya
10-1
Gambar 1 Agnus Dei (1640) oleh Francisco de Zurbarán
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Agnus_Dei_(Zurbar%C3%A1n) 

    Yang kamu lihat sekarang ialah seekor anak domba. Tengkurap di atas altar atau meja penjagal. Kakinya disilangkan dan dijerat dengan tali. Tiada ketegangan dalam lukisan ini, tetapi tidak pula tenang. Anak domba ini hidup. Tidak ada latar belakang di belakang domba ini melainkan hitam. Tak ada pula keberadaan konteks. Zurbarán melukiskan sang anak domba dalam kesunyian. 

Pencahayaan muncul dari sisi samping domba, entah dari cahaya jendela atau pintu yang terbuka atau malah cahaya lilin. Lukisan ini terasa seperti pentas atas pengorbanan. Detail yang paling membuat tidak nyaman ialah tiada darah, tiada luka, dan nirkekerasan.Tidak ada pula ekspresi pada wajah sang anak domba. Namun, dalam ekspresi itu, kita bisa merasakan sesuatu yang dekat dengan kata ‘menyerah’. Anak domba itu tidak melawan, ia menunggu. read more

Zurbaran dan Anak Domba Allah (1640) Read More »

Sudut Pandang Kritik terhadap Konsep ‘Mati Baik’ Abad Viktoria lewat Angoisse (1878)

radeya

Yang paling kejam dalam lukisan ini ialah Sang Salju

Gambar 1 Angoisse (1878) oleh August Schenck
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Anguish_(Schenck)

      Apa yang pertama kali kalian pikirkan setelah melihat Angoisse (1878)? Apakah sebuah lukisan yang membuka tirai kesengsaraan sang ibu domba ketika anak semata wayangnya meninggalkan dunia? Atau kalian fokus pada sekumpulan gagak muram yang mengelilingi sang ibu dan sang anak? Inilah Angoisse (1878) yang makna sebenarnya hanya diketahui oleh sang pelukis yang berkutat di lukisan domba. Angoisse (1878) atau Anguish (1878) atau Derita (1878), dilukis oleh jari-jemari seniman Denmark pada abad ke-19 oleh August Schenck. Lukisan ini dilukis dengan elok dengan gaya romantisisme dan naturalisme. Menggunakan cat minyak, karya ini berdiri kokoh dengan dimensi 151 cm × 251,2 cm. Sebelum kita bedah lukisan ini, marilah kita mengenal August Schenck terlebih dahulu. read more

Sudut Pandang Kritik terhadap Konsep ‘Mati Baik’ Abad Viktoria lewat Angoisse (1878) Read More »

Setengah Penuh Perjalanan: Evaluasi Tengah Tahun USER 2025

Miok

      Pada siang yang cerah, USER telah sukses menggelar salah satu agenda rutinitas tahunannya. Agenda tersebut adalah agenda yang cukup umum diselenggarakan saat tengah tahun, tidak lain dan tidak bukan—Evaluasi Tengah Tahun!!

Dokumentasi Hunter

      Evaluasi Tengah Tahun, atau yang selanjutnya disebut ETT merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja setiap divisi dalam satu periode kepengurusan tertentu—apakah program kerja yang dilaksanakan sudah terealisasi dengan baik atau belum. Sebagai unit kegiatan mahasiswa yang memiliki pembagian peran jelas melalui susunan kepengurusan, USER perlu mengevaluasi setiap kinerja dan arah langkahnya setelah berjalan selama setengah tahun periode. Kegiatan ini adalah momen penting bagi para pengurus untuk meninjau pencapaian, menyusun strategi, mengemukakan pendapat, juga mengenal satu sama lain. read more

Setengah Penuh Perjalanan: Evaluasi Tengah Tahun USER 2025 Read More »

Ketika Seni Rupa Berperan Menjadi Suara

Miok

      Bagi sebagian orang, kata-kata terasa terlalu sempit untuk menampung emosi. Bagaimana jadinya ketika seni mencoba untuk mengambil alih peran jurnal harian?

“Painting is just another way of keeping a diary.” —Pablo Picasso

      Layaknya kutipan tersebut, mungkin kamu yang membaca ini pernah merasa relate dengan makna yang disampaikan dalam kalimat itu. Terlebih, sebagai manusia, ada suatu hal yang sangat lekat dengan hari-hari yang kita jalani. Bahkan, jika itu hanya sebuah hari singkat yang kurang bermakna, sejatinya kita takkan bisa lepas dengan emosi yang kita alami. read more

Ketika Seni Rupa Berperan Menjadi Suara Read More »

Perayaan Tak Terlupakan: HUT USER X CESART

Dith

      Ulang tahun menjadi pesta setahun sekali yang menjadi penanda bertambah umur seseorang atau bahkan suatu organisasi, tidak terkecuali, USER yang merupakan unit kegiatan mahasiswa di UGM yang bergerak di bidang seni rupa. UKM ini menjadikan tanggal 25 April sebagai hari terlahirnya organisasi yang mewadahi ruahnya jiwa-jiwa seni di kampus ini. Di tahun 2025, USER tepat berumur 13 tahun dan menunjukkan bahwa UKM ini semakin kokoh dan tahan akan terjangan yang dihadapi. Acara ulang tahunnya diadakan di tanggal yang berbeda, yakni tanggal 11 Mei di hari Minggu. read more

Perayaan Tak Terlupakan: HUT USER X CESART Read More »

Kintsugi dan Keindahan yang Kadang Kala Tak Diakui

Dith

      Pernahkah kamu mendengar kintsugi? Kintsugi sesungguhnya tidak hanya menyenangkan mata yang memandangnya secara fisik, tetapi juga dapat menentramkan jiwa-jiwa yang butuh didengarkan lukanya. Okay, sebelum dimulai, mari kita samakan dulu persepsi mengenai definisi kintsugi. Kintsugi ini berasal dari Bahasa Jepang, yaitu kin yang berarti “emas” dan tsugi yang berarti “persendian”. Seni kintsugi juga dinamai dengan kintsukuroi yang berarti diperbaiki dengan emas. Kintsugi ini merupakan keramik atau porselen pecah yang diperbaiki dengan menggunakan pernis Jepang dan kemudian ditaburi emas, perak, ataupun platinum sehingga memberikan ilusi aliran logam yang mengalir. read more

Kintsugi dan Keindahan yang Kadang Kala Tak Diakui Read More »

Badai Kritik Sosial dalam Film Animasi Anak dan Ilustrasi

Nutnath

“Bila nanti… Badai kan datang…”

Siapa yang ingat sepenggal lirik lagu tersebut? Akhir-akhir ini, lagu tersebut sedang banyak diputar di sosial media. Yak, lagu yang berjudul “Selalu Ada di Nadimu” adalah soundtrack resmi film animasi Jumbo!

Film animasi Jumbo resmi meraih 5 juta penonton (19/04/25). Jumlah yang diyakini masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Jumbo berhasil menjadi film animasi yang paling banyak ditonton se-Asia Tenggara. Dengan gabungan ilustrasi yang indah, alur cerita yang mudah dipahami, dan soundtrack yang menarik, tidak heran jika film ini banyak dinikmati oleh segala kalangan. read more

Badai Kritik Sosial dalam Film Animasi Anak dan Ilustrasi Read More »

Jangan Sentuh Karya Itu!

Nutnath

“DILARANG MENYENTUH KARYA!” Kalian pasti sering menemukan himbauan seperti itu setiap mendatangi suatu pameran seni kan? Tidak cuma berwujud sebagai tulisan, gallery sitter yang berada di lokasi juga selalu mengingatkan pengunjung yang berdiri terlalu dekat dengan karya. Akan tetapi, pasti ada waktunya kalian sangat ingin untuk memegang karya. Aku sebagai orang yang hobi ke pameran juga terkadang memiliki keinginan impulsif untuk memegang karya seni yang ada di depanku.

Tapi kenapa sih pengunjung dilarang menyentuh karya seni yang sedang dipamerkan? Terdapat beberapa alasan yang sedikit berbeda untuk tiap-tiap pameran, tetapi yang pasti tentu saja untuk menjaga kondisi karya. Setiap karya seni memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, ada yang rapuh sampai diperlukan keutuhan atributnya. read more

Jangan Sentuh Karya Itu! Read More »

Dari Simetri Molekul hingga Orkestrasi Biodiversitas: Keteraturan Struktural dan Estetika Seni Rupa di Setiap Skala Kehidupan

Prajona Marbun

       Pada tahun 2024, ahli seni cadas Indonesia dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Oktaviana, bersama tim peneliti dari Griffith University, menemukan lukisan gua berusia lebih dari 50.000 tahun di Leang Karampuang, lanskap karst (bentang alam batuan kapur) Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Lukisan gua ini berupa ilustrasi naratif yang menyimpan informasi tentang cara hidup manusia prasejarah. Maros-Pangkep merupakan bentang alam karst terluas kedua di dunia dan telah diakui sebagai Geopark Global UNESCO pada 24 Mei 2023. Penemuan ini menunjukkan bahwa lukisan gua tersebut bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga manifestasi hubungan mendalam manusia dengan alam sejak zaman purba kala. Babi hutan, yang menjadi objek utama dalam lukisan, diyakini memiliki simbolisme yang terkait erat dengan perburuan, mitologi, dan spiritualitas pada masa itu. Seni, secara langsung ataupun tidak selalu terinspirasi oleh alam, baik dalam bentuk lanskap, tekstur, warna, maupun simbolisme, sebagaimana terlihat dalam perkembangan seni dalam berbagai peradaban manusia di seluruh dunia. read more

Dari Simetri Molekul hingga Orkestrasi Biodiversitas: Keteraturan Struktural dan Estetika Seni Rupa di Setiap Skala Kehidupan Read More »

Scroll to Top