Berita

Katarsis Dendrit: Menelusuri Jejak Biopsikologi dalam Kanvas Maret 2026

A.K

Sirkuit otak manusia selama ini adalah kotak hitam yang paling rahasia, namun awal Maret 2026 ini segalanya terasa lebih telanjang melalui kacamata biopsikologi. Di galeri-galeri Yogyakarta, kita mulai melihat pergeseran cara pandang: seni rupa bukan lagi sekadar persoalan estetik, melainkan manifestasi dari peristiwa elektrik di kedalaman lobus parietal. Kita sering menganggap melukis hanyalah soal teknik tangan dan koordinasi mata, padahal setiap goresan yang lahir adalah upaya otak untuk mempertahankan plastisitas sel sarafnya di tengah tekanan realitas. read more

Katarsis Dendrit: Menelusuri Jejak Biopsikologi dalam Kanvas Maret 2026 Read More »

Goresan Hitam di Atas Kertas: Catatan Kelas USER Perdana Bersama Tinta Cina

A.K

Sabtu sore di BRIWORK FISIPOL UGM kemarin rasanya sedikit berbeda. Bukannya dipenuhi mahasiswa yang ambis mengejar deadline skripsi, sudut itu justru riuh dengan tawa dan aroma khas tinta yang tajam namun menenangkan. Kelas USER perdana periode ini akhirnya pecah juga, membawa tema yang cukup menantang: “Eksplorasi Gambar dengan Media Tinta Cina”.

Jujur saja, menggunakan tinta cina itu gampang-gampang susah. Sekali gores, tidak ada jalan untuk kembali. Karakter cairnya yang liar menuntut kita untuk lebih “pasrah” sekaligus berani. Tapi justru di situlah letak keseruannya. Bersama Kak Cindy dan Kak Nuri dari ISI-SKA (Institut Seni Indonesia Surakarta), kami diajak menyelami teknik-teknik yang selama ini mungkin hanya kami lihat di galeri atau buku referensi seni. read more

Goresan Hitam di Atas Kertas: Catatan Kelas USER Perdana Bersama Tinta Cina Read More »

Mesin Waktu Dalam Lukisan: Menelisik Riuh-Rekah Kehidupan Sosial Belanda dalam Karya Musim Dingin “Si Bisu dari Kampen”

     Tita
Hendrik Avercamp (1585–1634), Winter Scene on a Canal. Oil on wood panel, about 1615. 18 7/8 x 37 5/8 in. (47.9 x 95.6 cm). Toledo Museum of Art

      Pada penghujung tahun saat terjadi titik balik matahari musim dingin, bumi berada pada titik terjauhnya dari matahari. Dunia akan terasa begitu dingin di tengah putih lembut dan biru pucat langit dan salju yang mulai merayap turun. Pada musim yang penuh salju ini, lahir warna-warna yang membawa kesan dingin dan kosong, seperti biru, putih, dan abu. Namun anehnya, dari warna-warna yang terkesan dingin ini justru banyak terlahir karya yang menggambarkan kehangatan dari berbagai interaksi manusia, seperti karya-karya Hendrick Avercamp (1585–1634). read more

Mesin Waktu Dalam Lukisan: Menelisik Riuh-Rekah Kehidupan Sosial Belanda dalam Karya Musim Dingin “Si Bisu dari Kampen” Read More »

Rupa yang Bergerak dalam Spektrum Zaman di Pameran Angkatan 14 USER UGM

 Laelyps

      Pameran Angkatan Unit Seni Rupa UGM (USER) 2025 yang berlangsung pada 17 hingga 21 November 2025 menghadirkan suasana yang menegaskan bahwa seni adalah cara manusia membaca waktu. Ruang pamer dipenuhi berbagai medium yang saling menanggapi, mulai dari kanvas yang dilapisi warna-warna kuat hingga instalasi yang memanfaatkan cahaya, suara, dan material temuan. Dengan mengusung tema Spektrum Zaman: Menjelajah Rupa dari Warisan ke Imajinasi, pameran ini mempertemukan karya-karya yang tidak hanya memamerkan bentuk visual, tetapi juga cara pandang para Calon Anggota USER (CAUSER) terhadap perjalanan waktu yang membentuk diri mereka. read more

Rupa yang Bergerak dalam Spektrum Zaman di Pameran Angkatan 14 USER UGM Read More »

Seni Rupa sebagai Medium Suara Berpolitik

Laelyps

      Seni rupa dan politik dianggap sesuatu hal yang bertolak belakang, bahkan pandangan publik tentang seni seharusnya tidak tercampur dengan politik. Akan tetapi, nyatanya seni rupa dan politik telah lama saling berkaitan dan berdampingan dalam kehidupan manusia. Sering kali kita menjumpai karya seni rupa berupa lukisan, patung, atau bahkan karya instalasi lainnya yang menyuarakan tentang isu-isu politik, terutama saat menyuarakan pendapat masyarakat pada demonstrasi. Oleh karena itu, posisi seni rupa disini bukan hanya sekedar tentang estetika belaka, tetapi menjadi media suara dalam menuntut kebenaran dan keadilan. read more

Seni Rupa sebagai Medium Suara Berpolitik Read More »

Memento Mori, Memento Vivere: Menelisik Penggambaran Maut dan Kehidupan dalam Seni Rupa

Spacetimewitch

“There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens, a time to be born and a time to die, a time to plant and a time to uproot.” Ecclesiastes 3:1-2

      Sebagai dua hal yang tidak pernah lepas dari status mortalitas manusia, maut dan kehidupan merupakan tema yang sering dihadirkan dalam sebuah karya seni. Penggambarannya pun beragam, unik, dan spesial, tergantung dari senimannya. Dari penggambaran itu pun, kita bisa mengetahui pesan apa yang berusaha disampaikan oleh si seniman, lebih dari sekadar menyajikan perbedaan antara suasana ‘hidup’ dan ‘mati’. read more

Memento Mori, Memento Vivere: Menelisik Penggambaran Maut dan Kehidupan dalam Seni Rupa Read More »

Tumbuh Menjadi Seniman Muda bersama DIKSAR 2025

Spacetimewitch

16_1

     Setiap tahunnya, USER selalu mengadakan pendidikan dasar bagi calon anggota baru guna menambah wawasan mereka sebagai seniman, sekaligus menjadi ajang latihan mereka dalam berkarya. Tahun ini, DIKSAR diadakan lebih spesial lagi dengan tema “Spektrum Zaman”. Tema tahun ini diharapkan akan menginspirasi para CAUSER (calon anggota USER) untuk berani menggali keragaman seni rupa dari warisan budaya masa lalu, menekuninya di masa kini, dan memadukannya dengan inovasi futuristik khas masa depan. Pada tahun ini, tercatat sebanyak 190 seniman muda telah mendaftarkan diri untuk mengikuti rangkaian DIKSAR 2025. read more

Tumbuh Menjadi Seniman Muda bersama DIKSAR 2025 Read More »

GAMARUPA 2025: Simpang

Devina

Gadjah Mada Merupa: Simpang, merupakan pameran seni yang dilaksanakan setiap tahunnya oleh UKM USER. Bertempatkan di Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) yang dimulai dari tanggal 14 sampai 20 September 2025. Tahun ini GAMARUPA mengangkat tema “Journey” yang mengartikan bahwa seni tidak hanya menyoroti perjalanan dalam bentuk perpindahan tempat, tetapi juga perjalanan emosi, pemikiran, dan perkembangan artistik seorang seniman. 

Pameran ini dibuka dengan rangkaian sambutan Dhia Fauziah Larasati sebagai ketua pelaksana, Angelina Malya Talitha Wasitadewi sebagai ketua USER, serta  Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio (K) sebagai pembina UKM USER, dan Gesito Arhant sebagai kurator GAMARUPA 2025. Kemudian pelaksanaan simbolisasi pembukaan dan ditutup dengan penampilan band The Abandoned House. Setelah pembukaan dilaksanakan, pameran telah resmi dibuka, dinikmati oleh setiap orang yang menikmati dan menghargai seni. read more

GAMARUPA 2025: Simpang Read More »

Those Three Eye-catching Colors

Devina

      Brave Pink, Hero Green, Resistance Blue tiga campuran warna yang sedang hangat dibahas akhir-akhir ini. Setelah penelusuran lebih dalam, ketiga warna ini memiliki maknanya masing-masing. Brave pink mengartikan keberanian, empati, dan membela kebenaran. Warna hero green melambangkan solidaritas, harapan, dan persatuan. Sedangkan resistance blue melambangkan keamanan, kedamaian, dan teratur. Uniknya, warna-warna ini tidak terdapat di dalam pantone warna. Mereka tercipta karena cerita yang sebaiknya tidak perlu diperpanjang. Artikel ini kutulis dengan penuh kagum dan pertanyaan. Sosial media menjadi salah satu tempat kita bisa menerima informasi yang jumlahnya tak terkira dan berasal dari mana saja, siapa saja. Dibalik kekacauan ini, suara dituangkan anak bangsa dalam bentuk seni. Aku menyadari, penggunaan tiga warna yang sangat mencolok itu. read more

Those Three Eye-catching Colors Read More »

Judith Slaying Holofernes: Kemurkaan dalam Diri Pelukis Perempuan

Hels
(Sumber: https://www.uffizi.it/en/artworks/judith-beheading-holofernes#gallery)

“My illustrious lordship, I’ll show you what a woman can do

      Kemurkaan dan kekejian tertapampang pada sebuah lukisan karya Artemisia Gentileschi, seorang pelukis perempuan asal Italia (1593–1652) dengan sebuah karya yang berjudul Judith Slaying Holofernes. Seorang perempuan kelahiran asal Italia ini lahir dari darah seorang seniman dari Tuscan Orazio Gentileschi dan Prudentia Montone. Kehadiran Ayahnya sebagai seniman, membuat Artemisia mengenal seorang seniman terkenal yang bernama Caravaggio. Meskipun kehadiran seorang seniman perempuan pada era saat itu sangatlah sulit, Artemishia berhasil memperolehnya dengan kemahiran yang ia miliki dengan mengadaptasi gaya lukisan milik Caravaggio di Roma, Florence, Napoli, London, Genova, dan Venice.  read more

Judith Slaying Holofernes: Kemurkaan dalam Diri Pelukis Perempuan Read More »

Scroll to Top