Memento Mori, Memento Vivere: Menelisik Penggambaran Maut dan Kehidupan dalam Seni Rupa

Spacetimewitch

“There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens, a time to be born and a time to die, a time to plant and a time to uproot.” Ecclesiastes 3:1-2

      Sebagai dua hal yang tidak pernah lepas dari status mortalitas manusia, maut dan kehidupan merupakan tema yang sering dihadirkan dalam sebuah karya seni. Penggambarannya pun beragam, unik, dan spesial, tergantung dari senimannya. Dari penggambaran itu pun, kita bisa mengetahui pesan apa yang berusaha disampaikan oleh si seniman, lebih dari sekadar menyajikan perbedaan antara suasana ‘hidup’ dan ‘mati’.

      Salah satu figur yang sering hadir dalam penggambaran Maut adalah malaikat berjubah hitam dengan sabit atau arit besar di tangannya, yang sering kita sebut dengan grim reaper. Penggambaran grim reaper ini menyimbolisasikan dunia kematian yang gelap dan kelam. Ia datang untuk memutus hubungan manusia dengan nyawa yang Tuhan titipkan, mengakhiri kehidupan manusia yang duniawi.

      Gustav Klimt (1862-1918), pelukis asal Austria yang aktif berkarya di awal abad-20 dengan aliran Art Nouveau, menggambarkan perbedaan antara dunia kehidupan yang fana dengan maut yang gelap tadi dalam lukisan “Death and Life”. Hampir mirip dengan lukisannya yang terkenal yakni “The Kiss”, Klimt menggambarkan kehidupan sebagai dunia yang hangat, penuh warna, dan harmonis. Manusia dari semua kalangan memeluk satu sama lain, ibu dengan anaknya, pria dengan kekasihnya, bahkan seorang nenek yang ikut bergabung di dalamnya. Penggambaran manusia dari berbagai usia ini melambangkan kehidupan kita semua: berawal dari bayi yang diasuh ibu, beranjak dewasa, dan lama-lama menua.

Gustav Klimt, 1910, “Death and Life”.

      Dalam “Death and Life”, Maut digambarkan dengan simbol grim reaper tradisional yang kita semua ketahui. Maut melirik manusia-manusia yang berpelukan tadi, seakan-akan mengingatkan manusia akan konsep memento mori – ingatlah kita semua akan mati, tanpa terkecuali. Namun bukannya ketakutan, para manusia itu masih berbahagia dalam suasana hangat yang mereka ciptakan. Manusia ini menggambarkan konsep antitesisnya, memento vivere – ingatlah untuk hidup. Kehidupan kita di dunia selayaknya dihabiskan dengan kegembiraan dan pencarian makna hidup dalam relasi kita dengan sesama.

      Penggambaran lainnya, yang sepemahaman saya bertolak belakang dengan lukisan “Death and Life”, adalah lukisan karya Marianne Stokes tahun 1908. Stokes menyajikan penggambaran Maut yang datang pada waktu malam, mengajak manusia untuk ikut bergabung dalam dunia kematian. Sebagai responnya, manusia (dalam lukisan ini dilukis sebagai perempuan di tempat tidur), tampak ketakutan dan seakan-akan berusaha membujuk Maut untuk meninggalkannya. Alih-alih menekankan konsep kebahagiaan, rasanya lukisan ini lebih menekankan akan perasaan cemas akan kematian.

Marianne Stokes, 1908, “Death and the Maiden”.

      Persepsi kita dalam memandang kehidupan dan kematian dalam seni bisa jadi beragam. Namun belajar dari lukisan Klimt dan Stokes, selayaknya kita pun ingat akan kefanaan hidup kita di dunia. Kita semua akan mati di akhirnya, dan hidup ini harus senantiasa dimaknai dengan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan di dunia.

REFERENSI

Obelisk Art History, 2022. Death and the maiden. https://www.arthistoryproject.com/artists/marianne-stokes/death-and-the-maiden/  

Encyclopedia Brittanica, 2025. Gustav Klimt. https://www.britannica.com/biography/Gustav-Klimt 

Leopold Museum, 2025. Gustav Klimt, Death and Life. https://www.leopoldmuseum.org/en/collection/highlights/146 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top