Sudut Pandang Kritik terhadap Konsep ‘Mati Baik’ Abad Viktoria lewat Angoisse (1878)

radeya

Yang paling kejam dalam lukisan ini ialah Sang Salju

Gambar 1 Angoisse (1878) oleh August Schenck
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Anguish_(Schenck)

      Apa yang pertama kali kalian pikirkan setelah melihat Angoisse (1878)? Apakah sebuah lukisan yang membuka tirai kesengsaraan sang ibu domba ketika anak semata wayangnya meninggalkan dunia? Atau kalian fokus pada sekumpulan gagak muram yang mengelilingi sang ibu dan sang anak? Inilah Angoisse (1878) yang makna sebenarnya hanya diketahui oleh sang pelukis yang berkutat di lukisan domba. Angoisse (1878) atau Anguish (1878) atau Derita (1878), dilukis oleh jari-jemari seniman Denmark pada abad ke-19 oleh August Schenck. Lukisan ini dilukis dengan elok dengan gaya romantisisme dan naturalisme. Menggunakan cat minyak, karya ini berdiri kokoh dengan dimensi 151 cm × 251,2 cm. Sebelum kita bedah lukisan ini, marilah kita mengenal August Schenck terlebih dahulu.

Gambar 2 August Friedrich Albrecht Schenck
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/August_Friedrich_Schenck

      Sedikit sekali yang bisa kita telisik masa lalu pelukis Angoisse (1878) ini. Bahkan, Dr Ted Gott—seorang kurator senior untuk karya seni internasional NGV—mengatakan bahwa sedikit sekali yang kita ketahui mengenai Schenck. Ia mengatakan “If you go to Wikipedia, you’ll see there are about three lines on him” (Dowse, 2021). August Friedrich Albrecht Schenck lahir di Gluckstadt, yang pada saat itu berada di bawah kontrol Denmark, tetapi masih menjadi bagian dari Konfederasi Jerman. Sang pelukis lahir pada tanggal 23 April 1828. Meskipun Schenck didiktat oleh orang tuanya menjadi pebisnis, si pelukis Anguish ini lantas pergi ke Paris dan menjadi murid Leon Cogniet serta menetap secara permanen di Prancis. Ia membuat debut pertamanya sebagai pelukis di Salon pada tahun 1855 (Clement dan Hutton, 1893). Karyanya lebih terkenal di Inggris, Portugal, dan Amerika daripada di Prancis. Karyanya “The Return to The Park” dan “A Bit of Auvergne” sangat diapresiasi (Clement dan Hutton, 1893). Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang pada 1 Januari 1901 di Ecouen. Bagian yang perlu kita garis bawahi ialah latar belakang tahun dan tempat sang pelukis selama ia hidup. Ini akan menjadi bagian krusial dalam lahirnya karya ini. 

      Jika kalian perhatikan dengan seksama, apa saja elemen yang ada di dalam lukisan ini? Sama seperti kalian, penulis melihat ibu domba meraung meratapi anaknya. Sang anak meninggalkan sang Ibu dan seisi dunia. Merah darah mengalir di atas derasnya butiran salju dari mulut sang anak domba, berlainan dengan putih salju yang kentara. Sekumpulan gagak hitam pekat mendekat. Mereka dingin dan kelaparan. Tetapi, mereka tidak mengganggu ataupun mendekati sang Ibu dan Anak. Mereka menunggu, menunggu bersama sang Ibu meratapi anak domba yang telah berpulang.

      Sebagian orang mengatakan, lukisan ini yang membuat terpana ialah sekumpulan gagak yang mengelilingi indung dan anaknya. Para burung gagak ini hidup di tengah salju. Sama seperti sang anak dan ibu domba, mereka melawan dinginnya salju. Di tengah kejamnya salju para gagak ini kelaparan. Satu-satunya makanan yang ada ialah sang anak domba. Seolah-olah, Schenck mengajak kita untuk duduk dan merenungkan, “Jika kamu berada di posisi para gagak, apa yang akan kamu lakukan? Berduka untuk sang anak domba atau menunggu untuk makanan yang ada di depan mata?” (Art Deco, 2023). Ada pula yang mengatakan jika lukisan ini bisa jadi terinspirasi dari buku Charles Darwin yang berjudul The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872) (Dowse, 2021).

      Namun, bagaimana jika Angoisse (1878) ini memberi pesan lebih dari itu? Pada abad ke-19 akhir, kematian dan penderitaan dianggap amatlah ‘modis’. Sebagian hal itu dikarenakan kematian ada di mana-mana dan Ratu Victoria berduka untuk suaminya, Pangeran Albert, secara berkepanjangan (Dowse, 2021). Pada abad ke-19, ramai pula mengenai konsep Good Death atau Mati Baik. Lantas, apa itu Mati Baik ala era Viktoria? Mary Riso mengatakan jika Mati Baik berasal dari konsep medieval ars moriendi atau Seni Untuk Sekarat. Mati Baik dapat dideskripsikan sebagai sekarat secara damai di atas kasur sendiri, dikelilingi oleh keluarga dan teman, dengan seorang pendeta yang siap melaksanakan Ritus Terakhir dan membawa anak-anak untuk mencium kita selamat tinggal (Riso, 2017). Mati Baik ala Viktoria bermodelkan dari kepercayaan evangelis. Selain meninggal dikelilingi keluarga, meninggal dalam keadaan damai dengan Tuhan juga salah satu konsep evangelis yang diambil untuk Mati Baik. Mengapa hal ini terjadi? Apakah ini mekanisme koping karena pada abad ke-19 kematian merupakan hal yang sangat sering dan familiar untuk disangkal? Kematian yang pelan, contohnya dari tuberkulosis, amat diromantisasi pada saat itu. Kematian pada saat itu menjangkit anak-anak lebih banyak. Pada paruh pertama abad ke-19, antara 40% dan 50% anak-anak Amerika meninggal pada umur 1-5 tahun (Tange, 2024). Ancaman dari penyakit amat mematikan, tuberkulosis membunuh 1 dari 7 orang di Amerika dan Eropa, dan ini menjadi penyebab kematian pada paruh awal abad ke-19. Cacar juga menjadi penyebab kematian anak-anak pada masa itu (Tange, 2024). Lantas, apa hubungannya dengan Angoisse (1878) oleh Schenck?

      Angoisse (1878) bisa saja tendangan keras secara langsung pada kepercayaan ideal orang-orang Viktoria mengenai Mati Baik. Tendangan keras untuk cara mereka meromantisasi kematian yang perlahan seperti tuberkulosis dan membuatnya seperti rekonsiliasi spiritual dan kedamaian terhadap pilihan Tuhan yang diberikan-Nya pada kita, termasuk kematian itu sendiri. Lihatlah pada lukisan ini, pandanglah sang ibu domba, berduka atas kematian anaknya. Beberapa bahkan menginterpretasikan lukisan ini sebagai gambaran keagamaan: sang ibu domba sebagai Bunda Maria dan anaknya sebagai Yesus Kristus. Dan pada akhirnya, bahkan Bunda Maria sendiri berduka. Bertolak belakang dengan kepercayaan Mati Baik yang meromantisasi kematian.

      Jadi, bagaimana jika lukisan ini sebuah kritik? Bagaimana jika lukisan ini juga bertanya  “Inikah yang kalian elu-elukan? Inikah ide kalian mengenai kedamaian dengan Tuhan?” Sang Ibu tidaklah damai dengan semuanya. Dia berduka, meraung atas anaknya. Ia kesakitan. Sang Ibu dikelilingi oleh kesunyian, kesunyian para gagak yang bertamu pada kematian sang anak. Layaknya orang-orang yang berduka atas kematian, tetapi tetap membiarkan mereka sendiri dalam ilusi romantis mereka mengenai kematian. Namun, apakah orang-orang ini salah dengan berpikir demikian? Tidak sepenuhnya. Mengapa? Layaknya penyakit yang melanda era ini, bukanlah salah mereka untuk menggunakan kepercayaan mereka untuk menenangkan diri mereka sendiri dari huru-hara kematian. Pun di dalam goresan kuas ini, bukanlah salah gerombolan gagak yang turut berduka atas kematian sang domba, tetapi salju kejam menelantarkan mereka.

Referensi

Art Deco. (2023, December 16). This Tragic Painting Is Painfully Beautiful. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=L8kOiFmR4qI 

Clement, C. E., & Hutton, L. (1893). Artists of the Nineteenth Century and Their Works (6th ed.). Houghton, Mifflin and Company.

Dowse, N. (2021, August 26). The story behind the NGV’s “sad sheep painting” and its mysterious artist. Time out Melbourne. https://www.timeout.com/melbourne/art/the-story-behind-the-ngvs-sad-sheep-painting-and-the-mysterious-artist-who-painted-it 

National Library of Scotland. (n.d.). Morbid curiosity. National Library of Scotland. https://www.nls.uk/learning-zone/politics-and-society/morbid-curiosity/

Riso, Mary. The Narrative of the Good Death. London: Routledge, 2017. 

Tange, A. K. (2024, December 11). Infectious diseases killed Victorian children at alarming rates • Nevada Current. Nevada Current. https://nevadacurrent.com/2024/12/11/infectious-diseases-killed-victorian-children-at-alarming-rates/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top