Dith
Pernahkah kamu mendengar kintsugi? Kintsugi sesungguhnya tidak hanya menyenangkan mata yang memandangnya secara fisik, tetapi juga dapat menentramkan jiwa-jiwa yang butuh didengarkan lukanya. Okay, sebelum dimulai, mari kita samakan dulu persepsi mengenai definisi kintsugi. Kintsugi ini berasal dari Bahasa Jepang, yaitu kin yang berarti “emas” dan tsugi yang berarti “persendian”. Seni kintsugi juga dinamai dengan kintsukuroi yang berarti diperbaiki dengan emas. Kintsugi ini merupakan keramik atau porselen pecah yang diperbaiki dengan menggunakan pernis Jepang dan kemudian ditaburi emas, perak, ataupun platinum sehingga memberikan ilusi aliran logam yang mengalir.

Berbicara tentang sejarah, kintsugi ini tercipta pada zaman Ashikaga Yoshimitsu (1358-1408), kala itu pemimpin ketiga yang berkuasa memecahkan teh kesayangannya yang desainnya tidak bisa tergantikan. Dia mengirimkannya ke Cina agar mangkuk itu dapat diperbaiki, teknik yang dilakukan, yaitu perbaikan dengan staples. Namun, shogun (pemimpin) ini merasa mangkuk yang sudah diperbaiki itu tidak indah dan fungsional. Dia lalu meminta pengrajinnya untuk menemukan metode baru yang dapat menghasilkan benda yang rusak menjadi indah, sehingga kintsugi ini tercipta.
Kintsugi juga tidak lepas dari filosofi Jepang, yakni wabi-sabi yang menyatakan keindahan bukan ditemukan dari standar kesempurnaan, tetapi dalam ketidaklengkapan, kerusakan, dan asimetri. Pecah bukan akhir dari kisah keramik, tapi momen penting dalam sejarahnya. Filosofi ini juga yang mengapresiasi objek-objek dan kekuatan alam yang mengingatkan kita bahwa tidak ada yang tetap sama selamanya. Wabi sabi ini mengajarkan bahwa sesuatu akan tumbuh lebih indah seiring berjalannya waktu. Para guru Zen Buddha percaya bahwa cangkir, mangkuk tembikar, dan keramik yang pecah tidak seharusnya disingkirkan, benda-benda tersebut masih bisa dihargai, diperhatikan, dan dirawat keberadaannya. Bekas pecahan pun tidak perlu disembunyikan dan justru menjadi pengingat bagi kita bahwa benda pecah bisa tetap dan bahkan lebih indah.
Beberapa karya kintsugi yang terkenal, yaitu mangkuk teh (cawan) yang berasal dari zaman Muromachi (1336-1573), Momoyama (1573-1603), dan Edo (1603-1868). Beberapa cawan sengaja dijatuhkan agar bisa diperbaiki dengan kintsugi karena pemiliknya ingin cawan-cawan tersebut memiliki makna yang dalam. Salah satu tempat terkenal yang memamerkan karya kintsugi dari abad ke-16 dan ke-17 adalah The British Museum. Terdapat juga karya yobitsugi, karya ini menggunakan pecahan dari keramik yang berbeda-beda. Walaupun akan lebih susah untuk diperbaiki, tetapi keunikan dan orisinalitasnya membuatnya layak untuk diciptakan. Tokoh yang memopulerkan yobitsugi ini adalah Oda Yurakusai.

Sebagai penutup, kita bisa menyimpulkan bahwa kintsugi tidak menutupi “kekurangannya”, tetapi justru menonjolkannya. Bukan hanya penerimaan, hal ini juga memerlukan keberanian yang mungkin saja tidak bisa terkumpulkan dalam satu malam. Keindahan yang hanya bisa disaksikan akibat “ketidaksempurnaan” yang dimiliki. Di dalam perjalanan kehidupan bisa saja kita merasa hancur dan tidak sempurna, tetapi kita perlu merangkulnya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Ketidaksempurnaan adalah bukti dari kekuatanmu.
Referensi
Cusinato, G., (2023), The Japanese art of Kintsugi or kintsukuroi and the philosophy of the person, In Periagoge – Theory of Singularity and Philosophy as an Exercise of Transformation Series, 47-49, Boston: Brill.
Santini, C., (2019), Kintsugi: Finding strength in imperfection, Andrews McMeel Publishing, Kansas City.
Tennant, E., (2022), How the philosophy behind the Japanese art form of kintsugi can help us navigate failure, The Conversation.
